MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI TENUN TRADISI BATAK

PEMBICARA

1.      SANDRA NISSEN

2.      MJA. NATSIR

3.      THOMPSON HS

 

Dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas HKBP Nommensen, acara ini difasilitasi oleh pusat kajian batakologi Nommensen, bertempat di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen pada hari Senin, tanggal 25 Oktober 2011 yang lalu.

 Pembicara Seminar Batak

Pembicara Seminar Batak

Sandra Nissen Hutabarat

Latar belakang penelitian saya 565 halaman dalam buku Nissen, orang batak heran ketika warisan yang dimilikinya sangat kaya tetapi orang batak sudah tidak ingat lagi akan kekayaan itu, buku yang dicetak Sandra Nissen masih dalam tahapan penyelesaian karena penenun batak belum memiliki buku ini tersebut, karena dalam hal penelitian ini penenunlah yang memberikan sumbangsih yang begtu besar dalam penelitian ini. Proyek pulang kampong Oppu Masta penjual ulos di Laguboti, dan beberapa orang yang belum penulis kenal diberikan buku, buku Sandra Nissen sudah sampai ke Afrika Selatan.Lumban suhi-suhi menerima buku Sandra Nissen.

 Sandra Nissen sebagai pembicara

Sandra Nissen sebagai pembicara

Proyek Pulang Kampung

Hasil yang paling menarik adalah buku mas nasir. Di daerah Simalungun tak banyak lagi ditemukan penenun, reaksi orang batak ketika melihat warisanya sangat terheran-heran karena sekarang hampir tidak ada lagi nilai kekayaan tersebut, keadaan dikampung sekarang sangat menyedihkan, anak-anak yang pintar semua ingin keluar, pustaha telah ada di Eropa, ilmu tidak masuk ke dalam kampong, pemilik warisan budaya batak itu sekarang sudah mulai hilang. Sekarang kampong yang dulu kaya sebagai pusat kebudayaan batak dengan proyek pulang kampong mungkin ini akan bisa merevitalisasi kebudayaan itu. Seni yang ada di ulos lama sekarang telah punah dan tidak ada lagi, corak lama telah hilang dan sekarang yang serba instan dan cepat.

 

MJA. NATSIR

Dalam penelitian bersama Sandra, posisinya  saya sebagai penyaksi, berjalan bersama Sandra menjadi satu buku berkelana bersama Sandra, muncul inspirasi menyusuri ulos batak, kembali diatas ulos yang tidak pernah lapuk. Menenun identik dengan kemiskinan, dan memandang menenun sebagai ketinggalan jaman, masih ada beberapa penenun, di Karo tidak ada lagi penenun, di Samosir penenun mulai berkurang, di Samosir yang dulu banyak, kampong makin sepi dan kosong, kesedian hati Sandra tenunan tradisional sudah mulai punah. Karya Sandra Nissen bukan hanya dirak-rak perpustakaan melainkan buku itu dibagi-bagikan kepada masyarakat luas bagi dari kalangan elit dan rendah. Ulos-ulos yang dibakar dan orang yang melakukannya adalah orang batak sendiri,  ulos nasora buruk. Jika negara Inggris sebagai lahirnya sepakbola, Sandra dan Nasir juara dalam ulos batak.

 

THOMSON HS

Pengalaman saya untuk memperhatikan ulos, tahun 2002, beberapa orang muda terlibat dalam kegiatan tersebut yakni revitalisasi opera batak, Paladai Hutabarat, penenun laki-laki, memperhatikan pekerjaan sehari-hari para penenun batak. Secretariat PLOT, dijadikan sebagai tempat tenunan batak, yang ditenun adalah suji. Suji adalah gabungan ulos batak dengan Palembang. Lebih banyak penghasilan penenun ulos dari pada pegawai negeri. Para penenun biasanya hanya tamatan SMA, lewat opera batak fungsi ulos batak, karana opera mengunakan olos setiap pementasannya, tahun 2006 buku tentang batak baru ada, 1919 pembakaran ulos mulai marak dari kelompok radikal, pertarungan produksi, ulos sebagai produksi ulos.

 Peserta Seminar yang hadir

Peserta Seminar yang hadir

Diskusi

Sesi Pertama Para peserta menanyakan:

1.      Bejalel Siagian

Arus balik bagaimana kita menjadi batak tempo dulu, apa arti batak??? Dan tidak tahu (penunggang kuda), padahal kuda dibatak tidak ada lagi, batak dinamis, menjadi rusak banyak orang batak bangga tidak dapat mengetahui adat batak, adat sekarang bukan adat batak, ulos dulu sangat berharga, sekarang harga ulos tidak ada lagi, karena Sedum bukan punya batak, cucu akan menyuruh neneknya membuat ulosnya lantas si nenek akan menyuruh  namborunya yang akan membuatkan. Bakar ulos??  Tidak bisa disalahkan  yang mengaku raja adat yang harus disalahkan kenapa di pak-pak, boru yang memberikan.

2.      Rumahorbo

Yang ditenun bukan ulos batak toba lagi melainkan ulos karo, ulos batak tidak memberikan kehidupan bagi kami, ulos Karo masih memungkingkan untuk keberlanjutan hidup, Merdi Sihombing membuat songket batak. Ulos sudah banyak di modifikasi dan ulos yang sudah lama dan tidak ada lagi.

Apakah ini hanya seminar saja, apa tahapan kedepannya???

3.      Jesiska Gintang

Bagaimana kalo ulos dijadikan alas kaki??

 

Jawaban dari pertanyaan tersebut:

Sandra Nissen

Tiap suku bangsa punya angapan  sendiri punya nilai yang berbeda akan hasil kebudayaannya,

Semua informasi yang saya dapat adalah dari nenek moyang batak, maka bertanyalah kepada nenek moyangmu, tenunan batak hilang akibat dari persaingan mesin yang bertabur sekarang sebagai peneliti yang hilang adalah ilmu kreatifitas yang hilang, motif asli sejarah batak, pengaruh dari luar, satu sumber sejarah yang dipakai oleh peneliti, ada nilai estetika dalam kain-kain lama, apakah tidak ada orang batak yang punya seni tentang batak, jangan lupa bahwa ilmu leluhur merupakan ilmu, kain yang ditampilkan dalam museum batak Balige merupakan bukan kain terindah, apa itu batak??? Jawaban pengetahuan tapi ada ilmu bukan hanya ilmu. Seharusnya ada proyek besar dengan pemerintah, pustaha-pustaha ratusan banyak disimpan di Paris, Belanda, Amerika.

 

Mja Natsir

Apa yang menarik dengan nusantara ini???

Nusantara sangat begitu luar biasa, di Bugis, hukum Indonesia jauh sebelum kemerdekaan hukum di nusantara sudah ada Batak sendiri.

 

Thomson Hs

Pameran ulos di Samosir, fungsi praktis ulos, suatu saat akan kembali fungsi yang sebenarnya sebenarnya.

 

Sesi kedua

Bajalel Siagian

Nilai ulos harus dikembalikan, kearifan tradiasional batak itu harus dikembalikan lagi, budaya batak ulos masuk dalam kurikulum lokal. Festival ulos, bagaimana caranya promosi ulos, budaya relatif ada yang bagus, harus ada yang disesuaikan waktu. Pajong-jonghon sopo, budaya cara berpakaian. Bagaimana caranya mempromosikan budaya dan apa yang dapat kita kerjakan.

Sandra Nissan

Ulos Karo yang sangat baik dengan  alat tenun mesin, mode kita kenal Merdi Sihombing berubah untuk fashion, ulos dapat diperkenalkan di luar negeri, ulos sebagai batik, ulos sebagai baju,

Ulos batak ditenun di Pekalongan, tetapi yang paling menarik adalah ulos sebagai seni, ulos dulu dipakai dengan warna alam. Pulang kampong film tentang tenun batak, naskah sangat kuno, keliling-keliling yang bisa membaca naskah itu dengan indah sekali, petani punya talenta, orang-orang di kampung, pulang kampong dengan segala ilmu.

Mja natsir

Semuanya boleh, saling tumbuh bukan saling bunuh. Ulos dapat dijadikan sebagai fashion batik dan yang lain, penenun sudah tidak ada lagi, alat tenun batak harusnya tidak meninggalkan kode etik batak.

Thompson

Fashion promosi mengembalikan ke sifat komunalnya ulos membentuk suatu cerita, sekarang kita kehilangan cerita, misalnya ceruta danau toba sudah lain ceritanya.

 

Moderator

Membicarakan ulos tidak cukup satu hari, tapi butuh waktu yang panjang. Peduli untuk memikirkan tentang ulos batak, sebagai awal untuk membicaraan tentang ulos untuk masa yang akan datang.